Sosok-sosok Pelestari Karya Maestro, Pakai Kecapi Aransemen Musik Lawas-Dangdut

by
Andi Agussalim AJ, kecapi Bugis, takkan pernah tutup usia. Tahan banting dan melenting melintasi zaman. (Foto: Tawakklal/FAJAR)

 

Di tangan Andi Agussalim AJ, kecapi Bugis, takkan pernah tutup usia. Tahan banting dan melenting melintasi zaman.

Laporan: IMAM RAHMANTO (fajar.co.id)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Suara kecapi Bugis melenting syahdu di En House, Selasa malam, 30 Juli. Ritme tarikan dawai berpadu dengan suara khas Andi Agussalim AJ.

Kepiawaiannya memainkan kecapi, seolah mengajak penonton pulang ke kampung halaman. Lelaki yang akrab dengan panggilan Puang Agus itu memang sangat piawai memainkan alat musik tradisional tersebut.

Sihirnya mampu menggugah kesadaran masa lalu pendengarnya. Tak ada yang ingin menyetop musik yang telah mengalun dari tangan sang maestro kecapi Bugis itu.

Ia baru saja memainkan “Rohman Ya Rohman”-nya Nissa Sabyan dalam versi kecapi Bugis. Setelahnya, beralih ke lagu dangdut yang lekat di telinga masyarakat. “Lari Pagi” yang dipopulerkan oleh sang Raja Dangdut, Rhoma Irama.

Kali ini, divariasikan dengan dua dawai oleh Agus. “Ini lagu dangdut yang akan saya tampilkan lagi nanti di video Youtube berikutnya. Tetapi, masih sementara disempurnakan dulu,” tuturnya, di sela-sela memperkenalkan kecapi miliknya.

Belum selesai membuat terkesima, ia menjajal musik klasik. Berlanjut dengan lagu rock lawas milik Queen.

Agussalim memang sempat mengundang perhatian lewat akun Youtube pribadinya di dunia maya. Bukan karena pandai bernyanyi. Bukan pula karena suaranya yang menyerupai penyanyi aslinya. Melainkan karena ia memadukan unsur tradisional kecapi Bugis dengan lagu dangdut.

Video berdurasi 10 menit 6 detik itu berisi permainan kecapinya meng-cover lagu “Nasib Bunga”, “Nur Halimah”. Suaranya bahkan melantun begitu merdu. Tak pelak, video itu pun meraup 324 ribu tontonan dan disukai 4.800 orang.

Agus juga tak pernah menyangka, permainan kecapinya bisa merebut tempat di hati masyarakat. Apalagi, penonton jejaring video semacam itu berasal dari kalangan milenial.

Segmentasi alat musik tradisional biasanya tidak banyak disukai anak-anak muda zaman sekarang. Bahkan, cenderung ditinggalkan.

Sesungguhnya, ia memulai media sosial Youtube sebagai wadah untuk berbagai aktivitas seni dan musik. Berbagai macam kegiatan maupun materi diunggahnya, sejak 2012 lalu. Banyak alat musik yang juga dimainkannya.

“Ternyata, saat saya memainkan musik kecapi, banyak yang suka. Apalagi saya memainkannya berkali-kali dengan berbagai macam versi dan variasi. Pas lagu dangdut, penontonnya melonjak. Kalau begitu, saya bertahan di sini dan mengolah kecapi dalam berbagai ragam. Begitulah saya menangkap peluang,” terang anak keenam dari delapan bersaudara ini

Telinga Agus memang sudah peka dengan berbagai bunyi-bunyian tradisional itu. Sejak lahir 49 tahun silam, lingkungan rumahnya di Sengkang dikepung riuh dengan suara dawai saban hari. Tetangganya sering bermain kecapi dan menyuguhi telinganya dengan suara-suara merdu nan syahdu.

“Malah, biasa orang bertanding antarrumah. Hal itulah yang terus terngiang di kepala saya tentang kesadaran bunyi itu. Akhirnya berlanjut dengan kecintaan alat musik tradisional,” ungkapnya.

Agus kecil mencoba lebih banyak memegang berbagai instrumen tradisional itu. Kulitnya akrab dengan tekstur-tekstur kayu kecapi tradisional. Jemarinya pun sudah mahir menari-nari di atas dawai kecapi sejak sekolah dasar (SD). Puncaknya, ia bisa tampil di hadapan teman-temannya dalam acara perpisahan SMA.

Kecintaan itu telah membawanya menekuni dunia musik hingga bangku perkuliahan. Agus sudah paham betul membedakan nada hingga detail-detail terkecil. Pengalamannya di tPendidikan Seni Musik IKIP Yogyakarta menguatkan sensitivitas suara itu. Dari musik tradisional hingga internasional.

“Di sana lah saya banyak belajar tentang musik Barat, notasinya, alat-alat musik seperti piano. Itu semakin menguatkan jiwa tradisional dengam combine (kombinasikan) apa yang saya punya. Pola-pola ritmik yang saya bangun juga semakin kuat,” papar alumni S2 Pengkajian Seni Pertunjukan Universitas Gajah Mada ini.

Ia benar-benar menjiwai seni tradisional lewat kecapi tersebut. Selama ini, kecapi-kecapinya merupakan pemberian langsung para pembuatnya di berbagai daerah. Seumpama ada harapan yang ditiupkan dalam setiap tarikan dawai pemberian kecapi itu.

Unggahan-unggahannya di Youtube dianggapnya sebagai peluang untuk menghidupkan kecapi di kalangan generasi muda.

Apalagi, animo masyarakat terhadap kesenian tradisional ternyata belum mati. Hanya butuh inovasi dan kreativitas untuk memperkenalkannya secara luas.

“Target awal saya juga sebenarnya ingin membuat media pembelajaran bagi guru-guru Muatan Lokal terkait Seni Budaya. Banyak yang bukan berasal dari background seni. Jadi, mereka bisa belajar langsung melalui media video yang bebas diakses siapa saja,” papar lelaki yang telah menciptakan 30 lagu ini.

Lagu-lagunya memang sudah menggema hingga kancah internasional. Ia kerap tampil di berbagai pentas dunia seperti di Inggris, Thailand, atau Vietnam. Biasanya, ia diiringi beberapa penyanyi yang dibinanya melalui komunitas paduan suara Pitch Choir.

Bagi Agus, pengalaman paling mengesankan adalah tampil di tengah-tengah penyanyinya yang membawakan lagu ciptaannya dengan diiringi musik kecapi darinya. (*/rif-zuk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *