Seorang Peneliti di Amerika Menemukan Usia Tepat untuk Menikah. Umur Berapa Ya? – Fajar Trend
Update

Seorang Peneliti di Amerika Menemukan Usia Tepat untuk Menikah. Umur Berapa Ya?

Cahaya Foto studio

FAJAR TREND – Batas usia bagi seseorang untuk menikah selalu berubah seiring berjalannya waktu.

Hal ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan sosial dan implikasi keuangan, yang membut para pasangan tak jarang memutuskan untuk menunda pernikahan mereka.

Menurut Nichoas Wolfinger, sosiolog Universitas Utah, menikah di akhir usia 20-an atau di awal usia 30-an mengurangi kemungkinan perceraian. Jadi, singkatnya, pergeseran dalam ketetapan waktu untuk menikah dapat memiliki efek yang positif.

Setelah mempelajari data Survei Pertumbuhan Keluarga Nasional AS, Wolfinger menyimpulkan bahwa risiko perceraian menurun bagi mereka yang menikah di akhir usia 20-an atau di awal usia 30-an.

Namun, ia juga mendapati bahwa risiko perceraian tampaknya akan sangat meningkat pada pasangan yang menikah di akhir usia 30-an atau lebih.

Couple fighting in front of child; Shutterstock ID 95861986; PO: The Huffington Post; Job: The Huffington Post; Client: The Huffington Post; Other: The Huffington Post

THE HUFFINGTON POST

“Selama bertahun-tahun, sepertinya semakin lama anda menunda pernikahan, akan semakin baik bagi diri anda dan juga pasangan,” tulis Wolfinger dalam laporannya.

“Hal tersebut berdampak baik karena hubungan antara usia kawin dan perceraian berbanding lurus: Semakin tua anda, semakin rendah kemungkinan perceraian.”

Namun, menurut Wolfinger, risiko perceraian meningkat bagi pasangan yang memutuskan untuk menikah saat usia mereka di atas 32 tahun.

“Analisis data saya menunjukkan bahwa sebelum kita menginjak usia 32 tahun, risiko perceraian berkurang sebanyak 11 persen per tahun. Sebaliknya, jika kita menikah di atas usia 32 tahun, risiko perceraiannya meningkat hingga lima persen per tahun.”

“Contohnya, si A memutuskan untuk menikah dengan B saat keduanya berusia 28 tahun, maka risiko perceraian mereka berkurang 11 persen dikali 32-28 tahun menjadi 44 persen. Contoh lainnya, Si C memutuskan untuk menikah dengan D saat usia mereka menginjak 40 tahun. Maka, risiko perceraian mereka meningkat hingga lima persen dikali 40-32 tahun menjadi 40 persen.”

Ide baru ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya. Di masa lalu, kita sering berpikir bahwa menikah di usia tua, setelah banyak menghabiskan waktu bersama, adalah jalan menuju kebahagiaan dalam rumah tangga.

Sederhananya, menunda pernikahan hingga anda memiliki hubungan yang sehat dengan pasangan dan dapat mengerti satu sama lain merupakan hal yang baik. Namun, menunda pernikahan hingga terlalu lama dapat membuat anda kesulitan.

Wolfinger tidak tahu mengapa risiko perceraian meningkat bagi pernikahan di usia lanjut.

Pernikahan di usia lanjut menunjukkan bahwa orang-orang mungkin senang berada dalam hubungan jangka panjang yang memiliki komitmen, akan tetapi pernikahan bukanlah sesuatu yang mutlak bagi mereka.

Sebaliknya, menikah di usia dini juga akan mendatangkan hal yang rumit. Wolfinger beranggapan bahwa tak jarang beberapa pasangan hanya memaknai pernikahan sebagai sebuah pesta dan kegembiraan, yang tidak cukup sebagai alasan untuk melakukan hal tersebut.

GOOGLE IMAGES

GOOGLE IMAGES

Jadi, Wolfinger beranggapan bahwa usia yang tepat untuk melakukan pernikahan ialah di antara 27-32 tahun. Namun yang perlu digarisbawahi adalah ini hanyalah sebuah kesimpulan, bukan panduan untuk melakukan pernikahan, Tentang bagaimana nantinya, tergantung pribadi masing-masing dalam menjalankan dan mempraktikkan esensi pernikahan, bukan? (m2/fajar)

loading...

The Latest

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!