PON 2016 Jabar “Terburuk” Dalam Sejarah? – Fajar Trend
Olahraga

PON 2016 Jabar “Terburuk” Dalam Sejarah?

ayobandung.com

Fajar.co.id– Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat 2016 telah berakhir pada (29/9). Namun ada beberapa catatan kelam yang terjadi dalam setiap perhelatan para atlet ini. Apa saja kekisruhan PON Jabar? Berikut rangkumannya.

Protes Kontingen DKI Jakarta di Cabor Karate

Kontingen DKI Jakarta melayangkan protes kepada Pengurus Besar Pekan Olahraga Nasional terkait dengan penggunaan system komputerisasi dalam menyediakan wasit yang memimpin pertandingan. Penggunaan system tersebut diduga banyak yang atlet yang dirugikan termasuk atlet ibu kota.

Kerusuhan di Cabor Wushu

Kerusuhan berawal saat pertandingan final Sanda kelas 52 Kg Putri yang mempertemukan Sumatera Utara dengan tuan rumah Jawa Barat. Hasil akhir kekalahan tuan rumah dengan skor 2-1 membuat Ketua Pengprov Jawa Barat, Edwin Sanjaya, langsung turun ke lapangan menghampiri wasit karna tidak puas dengan hasil keputusan pemimpin pertandingan. Aksi tersebut membuat penonton berhamburan mengejar atlet Sumatera Utara.

Bentrok antara Kontingen DKI dengan Papua

Insiden terjadi di Cabor Hoki yang mempertemukan tim DKI Jakarta dan tim Papua saat salah satu atlet DKI dihajar menggunakan stik oleh atlet Papua. Bentrok antar kedua tim pun tak terhindari. Akibat insiden tersebut, atlet DKI mendapat 10 jahitan di kepalanya. Tak diketahui pemicu dari insiden tersebut.

Boikot di Cabor Judo

Beberapa kontingen yang turun pada Cabang Olahraga Judo memboikot pertandingan, lantaran kecewa dengan keputusan wasit yang memimpin pertandingan Kata Putra dan Putri pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat 2016.

Kontroversi di Cabor Renang Indah

Kamis (22/9), giliran cabang olahraga renang indah yang memunculkan kontroversi. Kontingen DKI Jakarta memilih mundur dari berbagai nomor yang dipertandingkan.Mereka menolak keputusan panpel yang baru sekarang menerapkan sistem pembatasan umur maksimal 26 tahun. Sebab, atlet andalan mereka, Adela Amanda Nirmala yang saat ini berusia 27 tahun tidak bisa diturunkan karena aturan tersebut.

 

Ketua Dewan Hakim PB PON XIX, M. Riyanto,  mengatakan sejauh ini jumlah gugatan atau sengketa yang masuk sebanyak 9 kasus.

Ternyata jumlah ini lebih sedikit dibandingkan gugatan yang masuk pada penyelenggaraan PON Riau, kasus yang masuk sebanyak 21 gugatan. (M3/Fajar)

loading...

The Latest

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!