Hati-hati, Takjil Mengandung Bahan Berbahaya Marak Beredar Saat Ramadan – FAJAR Trend
Google Trend

Hati-hati, Takjil Mengandung Bahan Berbahaya Marak Beredar Saat Ramadan

ilustrasi

FAJAR TREND – Takjil atau makanan kecil saat berbuka Ramadan biasanya identik dengan makanan manis. Biasanya masyarakat Indonesia menghidangkannya berupa gorengan, kolak, es buah, dan lainnya.

Namun Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) meminta masyarakat untuk berhati-hati dan lebih selektif dalam memilih pangan selama bulan Ramadan, termasuk takjil.

Karena itu, BPOM menggelar intensifikasi pengawasan pangan jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2017 sejak dua pekan sebelum Ramadan hingga satu minggu setelah lebaran. Target intensifikasi pengawasan difokuskan pada pangan olahan tanpa izin edar (TIE), kedaluwarsa, dan rusak di sarana distribusi pangan.

Selain itu, petugas Badan POM beserta Balai Besar/Balai POM (BB/BPOM) di seluruh Indonesia pun meningkatkan pengawasan terhadap pangan jajanan berbuka puasa (takjil) yang kemungkinan mengandung bahan berbahaya. Intensifikasi pengawasan ini dilakukan secara terpadu dan sinergis bersama lintas sektor.

Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya di antaranya boraks, formalin, pewarna tekstil dan lainnya. Di minggu pertama pelaksanaannya, petugas telah memeriksa 712 sarana distribusi pangan.

Hasilnya masih terdapat 40 persen sarana yang dikategorikan tidak memenuhi ketentuan (TMK) karena menjual produk pangan kedaluwarsa, rusak, dan TIE.

Total temuan pangan TMK dari sarana tersebut berjumlah 152.065  kemasan, terdiri atas 74 persen pangan TIE, 23 persen pangan kedaluwarsa, dan 3 persen pangan dalam keadaan rusak.

“Intensifikasi pengawasan pangan tahun 2017 akan sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun ini Badan POM juga akan membuka posko-posko pengaduan dan menempatkan mobil laboratorium keliling di beberapa titik mudik, sehingga masyarakat dapat langsung melapor jika menemukan pangan yang tidak memenuhi ketentuan”, papar Kepala Badan POM, Penny K. Lukito dalam keterangan tertulis, Kamis (25/5).

Berdasarkan lokasi temuan, temuan pangan rusak banyak ditemukan di Jayapura, Padang, Bandung, Aceh, dan Manokwari. Jenis produknya yakni mentega, ikan dalam kaleng, minuman berperisa, kecap, dan susu kental manis.

Temuan pangan kedaluwarsa banyak ditemukan di Manokwari, Jayapura, Samarinda, Ambon dan Denpasar dengan jenis produk mi instan, bahan tambahan pangan, biskuit, minuman serbuk, dan makanan ringan.

Sementara untuk pangan TIE banyak ditemukan di Lampung, Palembang, Mataram, Batam dan Kendari dengan jenis produk teh, garam, makanan ringan, biskuit, gula dan tepung.

Pendekatan preventif lain juga dilakukan Badan POM, antara lain mengajak pelaku usaha dan para peritel untuk melaksanakan tanggung jawabnya dalam menjaga keamanan dan mutu pangan sepanjang rantai distribusi. (jpg/fajar)

loading...
Click to comment

The Latest

To Top