Penggrebekan Pesta Gay di Jakarta Utara, MUI: Indonesia Darurat Homoseksual – FAJAR Trend
Google Trend

Penggrebekan Pesta Gay di Jakarta Utara, MUI: Indonesia Darurat Homoseksual

pelaku yang berhasil diamankan saat penggrebekan pesta gay di jakarta utara - dok. fajar

FAJAR TREND – Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat miris dan prihatin atas terungkapnya sebuah pesta kaum homoseksual di sebuah ruko di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Minggu (21/5) malam yang bertemakan The Wild One.

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi‎ mengatakan, ada empat masalah terkait prilaku gay yang sudah sangat mengkhawatirkan ini.

Pertama masalah homoseksual ini sudah sangat mengkhawatirkan karena dari jumlah yang berhasil diamankan yaitu 141 orang. Ini menurutnya angka yang sangat fantastis.

“Dengan demikian ini menunjukkan bahwa masalah homoseksual tidak bisa dianggap lagi menjadi masalah sederhana tapi perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari semua pihak khususnya dari pemerintah, tokoh agama dan masyarakat,” ujar Zainut dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (23/5).

Kedua, ungkap anggota Komisi IV DPR ini, kegiatan homoseksual sudah berkembang menjadi komoditas bisnis yang memiliki pangsa pasar dan jaringan yang rapi.

Bahkan dikelola secara profesional sehingga memerlukan penanganan yang serius, sistematis dan menggunakan teknik informatika yang memadai sehingga tidak boleh kalah dengan para pelaku kejahatannya.

Ketiga, para tokoh agama hendaknya semakin sering memberikan pencerahan kepada umatnya tentang pentingnya hidup dengan perilaku seks yang sehat dan bertanggung jawab sesuai dengan ajaran agama.

Serta menjelaskan tentang bahayanya hidup dengan perilaku seks yang menyimpang. Demi menyelamatkan peradaban hidup umat manusia.

“Saya yakin dan percaya bahwa semua agama mengajarkan kepada pemeluknya untuk berperilaku seks yang sehat dan bertanggung jawab,” katanya.

Keempat, pihak aparat penegak hukum harus berani secara tegas melakukan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan seksual yang melanggar perbuatan tindak pidana.

Pelaku bisa dijerat dengan UU Nomor 44/2008 tentang Pornografi dan UU Nomor19/2016 Tentang Informatika danTransaksi Elektronika, untuk membuat efek jera pelakunya.

Terhadap orang yang berperan sebagai penyedia usaha pornografi bisa diancam pidana maksimal kurungan 10 tahun penjara, begitu juga terhadap para pelaku tindak pidana pornografi termasuk penari telanjang juga bisa diancam pidana kurungan.

“Sedangkan terhadap orang yang menjadi korban tindakan pornografi, pemerintah harus memberikan perlindungan. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan UU Nomor 44/2008 Tentang Pornografi,” ungkapnya.

Dengan demikian, MUI berpendapat tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa tindakan polisi melakukan penggrebekan terhadap pesta homoseksual di Kelapa Gading itu dianggap melanggar HAM karena dilakukan di ruang privat.

“Orang yang bilang seperti itu tidak pernah membaca secara benar UU Nomor 44/2008 Tentang Pornografi,” tegasnya.

Pengertian privat dalam UU tersebut itu jika tidak melibatkan banyak orang, atau kalau konten pornografi itu untuk kepentingan pribadi.

Tapi kalau sudah melibatkan 141 orang, kemudian ada transaksi dan pertunjukan itu sudah masuk unsur pidana pornografi.

“Jadi MUI mendukung penuh langkah-langkah kepolisian untuk menegakkan peraturan perundang-undangan,” pungkasnya. (rs/fajar)

loading...

The Latest

To Top