Cerita Bandar-bandar Zenith yang Tak Pernah Jerah – FAJAR Trend
Unik dan Seru

Cerita Bandar-bandar Zenith yang Tak Pernah Jerah

Peredaran Charnophen atau Zenith di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU)  menjamur bak cendawan di musim hujan. Bandar gede sampai bandar kelas teri berkali-kali diringkus dan dimeja hijaukan, namun bukannya berkurang, pelaku di bisnis menggiurkan ini malah semakin bertambah.

————————————————

Yang paling heboh tentu saja kasus H Tinghui atau Saupian Sauri yang tertangkap memiliki zenith mencapai Rp 1,2 miliar pada Maret 2016 lalu.

Baru-baru tadi, Resnarkoba Polres HSU menangkap para pemain baru lagi. Adalah Amat dan Rida yang  diringkus di Desa Kota Raja dengan jumlah zenith 3.500 butir pil jin.

Selain mereka, Resnarkoba Polres HSU juga meringkus bandar yang lebih besar atas nama Rustam alias Utam dengan kepemilikan 20.582 butir Zenith.  Di bulan April ini, Polres telah meringkus 6 tersangka baru kepemilikan zenith.

“Memang tak ada efek jera melihat fenomena makin banyaknya pelaku (bandar) zenith yang diringkus polisi. Mungkin karena hukuman yang lebih ringan dibandingkan dengan kasus narkotika lainnya,” sebut Husnul Fajeri, tokoh masyarakat HSU.

Menurutnya, sekelas Tinghui saja, hanya dituntut satu tahun penjara, namun ditingkat banding di Pengadilan Tinggi Banjarmasin, Tinghui diganjar kurungan 1 tahun 6 bulan penjara.

“Efek yang ditimbulkan Pil Jin kepada warga yang jadi budaknya, tentu tak sebanding dengan hukuman bagi para pengedar,” terangnya.

Dia mengatakan baru-baru ini  berkonsultasi di Badan Narkotika Nasional (BNN) Jakarta dan menemukan fakta bahwa obat ini mampu membuat penikmatnya menjadi gila kurang dari 3 tahun setelah menjadi pecandu Zenith. “Jadi dari dua butir, jadi lima sampai 7 butir sekali teguk, dampaknya ke saraf. Jadi ini obat sangat berbahaya apabila jadi obat favorit generasi kita,” terangnya.

Husnul yang juga komisioner KPU HSU ini  tetap mengapresiasi kinerja kepolisian untuk membongkar praktek peredaran obat zenith di daerahnya.

Sementara itu, Kepala BNNK Balangan AKBP A Muthalif mengatakan  zenith tentu memiliki efek ketergantungan pada pemakainya. “Efek halusinasi yang berlebihan dan rasa pede yang tinggi, membawa penikmat obat ini makin bertambah. Mulai pelajar sampai dewasa jadi pasar bandar potensial, sebab harganya yang murah ketimbang jenis narkotika lainnya,” terang Muthalif

Dia mengimbau warga yang terlanjur menjadi pecandu obat ini, pihaknya memiliki solusi dengan melakukan konseling dan rehabilitasi pada pecandu obat zenith ini. “Konseling dan rehabilitasi gratis. Jadi jangan sungkan untuk ikut program kami,” sampainya.

Menanggapi maraknya peredaran obat daftar G dan narkotika di wilayah HSU, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat melakukan pengajuan tujuh buah raperda inisiatif diantaranya raperda tes narkotika. Hal ini sebagai upaya pencegahan atau memutus mata rantai narkoba dan obat-obat terlarang lainnya di HSU.

“Kalau raperda inisiatif ini kami ajukan ke pemerintah daerah atas audiensi atau pun laporan warga yang ingin adanya tes narkotika termasuk obat terlarang lainnya untuk dijadikan perda,” sebut Ketua DPRD Sahrujani.

Menurutnya, langkah ini ditempuh sebagai upaya menyelamatkan generasi muda penerus bangsa. “Terkait aksi kepolisian yang terus menangkap para pelaku zenith, secara pribadi dan kelembagaan kami mendukung dan mengapresiasi,” sampainya.

Kepala Dinas Pendidikan HSU, Rahmat menyampaikan, upaya yang dilakukan pihaknya mengatasi penyalahgunaan obat di kalangan pelajar khususnya zenith, telah membentuk Satgas Anti Narkoba.

Petugas yang merupakan siswa, wajib melaporkan apabila ada teman (siswa,red) yang terindikasi narkoba atau zenith. “Kami mulai laksanakan sejak 2014 lalu. Dan sampai saat ini masih berjalan,” singkat Rahmat. (mar/ay/ran)

loading...

The Latest

To Top