BIADAB! Bocah 6 Tahun Dicabuli Hingga Empat Kali, Sekarang Pembukaan Enam – FAJAR Trend
Update

BIADAB! Bocah 6 Tahun Dicabuli Hingga Empat Kali, Sekarang Pembukaan Enam

DEKAT DENGAN RUMAH: NA di lokasi kebun singkong, kemarin (27/4). Di sini, dia diperkosa pelaku. (ANGGI PRADITHA/KP)

Kejahatan seksual terhadap anak seperti sulit dicegah. Sudah kerap ditangani kepolisian, namun selalu muncul kasus serupa.

M RIDHUAN, Balikpapan

KINI seorang anak perempuan berusia 6 tahun menjadi korban. Pelakunya orang dekat. Tetangga yang tempat tinggalnya hanya berjarak kurang dari 100 meter dari rumah korban. Seorang pemuda berinisial IHN (24) diduga tega memerkosa NA berulang dalam kurun dua pekan.

Kasus tersebut pertama kali sampai ke telinga Kaltim Post, kemarin (27/4) siang. Di bawah langit mendung dan guyuran hujan deras, pesan singkat masuk dari seorang warga yang prihatin melihat kondisi korban dan keluarganya. Media ini kemudian bergegas ke lokasi tempat kejadian. Berkendara sejauh 11 kilometer dari Mapolsek Balikpapan Utara menuju Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara.

Lokasi tempat tinggal korban cukup jauh dari jalan raya. Melewati aspal rusak, jembatan kayu yang goyang, jalan lumpur bebatuan, hingga jalur semen yang hanya muat satu mobil. Sampai di sebuah kampung bernama Kampung Timur. Kedatangan awak koran ini sudah disambut warga di sebuah warung.

Namun, tidak tampak keluarga maupun korban. Rupanya, NA dan keluarganya sedang dalam perjalanan pulang dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Balikpapan.

Menunggu sambil bercerita dengan warga, tidak lama mobil putih berhenti di depan warung. Korban bersama keluarga dan tetangga turun. Gadis mungil tampak mengenakan baju motif biru muda. Celana panjang biru tua dan sandal jepit dengan warna serupa. Meski tampak lincah, sorot mata NA masih tampak kosong.

Secara eksklusif, NA menceritakan kisah pedihnya. Bocah berperawakan kurus itu begitu polos dan malu-malu setiap menjawab pertanyaan. “Empat kali (diperkosa). Di lokasi penggusuran, di kebun singkong, di rumah tikus, terus di kebun singkong lagi. Saya ditarik, tangan saya dipegang dan dipaksa ikut. Takut, soalnya mukanya marah. Terus dia bawa pisau dikasih lihat ke saya di kantongnya,” ujar bocah malang itu dengan suara pelan hampir tidak terdengar.

NA mengaku tidak hafal hari maupun jam berapa dirinya dipaksa melayani nafsu bejat pelaku. Dia hanya ingat saat itu kondisinya terang namun hampir gelap. Kejadian dikisahkannya berlangsung setiap kali dirinya pulang setelah bermain masak-masakan di rumah temannya. Lokasinya hanya berjarak satu rumah dari tempat tinggal pelaku.

Pelaku disebut NA kerap mengancamnya menggunakan pisau. Dalam menjalani aksinya, NA menyebut, IHN selalu menunggunya di atas sebuah jembatan kayu. Kurang dari 20 meter dari jalan kampung. IHN menunggu di bawah naungan pohon kelapa. Mengawasi keadaan sekitar dan menyergap NA ketika lewat.

“Saya selalu lewat situ sama adik. Dia menunggu di situ. Lalu, saya ditarik ke dalam dekat bunga yang merah di pohon singkong. Terus mulut saya ditutup dengan lem hitam (lakban),” ujar gadis yang bercita-cita menjadi perawat itu.

YA, adik NA rupanya menjadi saksi bagaimana kakaknya dibawa paksa IHN. Dia mengaku juga takut dengan pelaku. Hanya bisa pasrah dan membiarkan pelaku membawa kakaknya ke lokasi pemerkosaan. “Saya tunggu saja. Dia (NA) ditarik sama orang itu. Terus saya lihat kakak keluar sendirian. Terus kami pulang,” ujar YA polos sambil meminum teh kemasan.

Mereka berdua mengaku tidak menceritakan perbuatan ini kepada orangtua. Bukan karena takut, melainkan memang tidak tahu perbuatan yang dilakukan pelaku merupakan bentuk pemerkosaan. NA baru merasakan kesakitan ketika Minggu (23/4) malam saat dirinya buang air kecil.

“Ibunya langsung datang ke saya. Dia bilang anaknya seperti kena bisul di bagian kemaluan. Saya lihat memang bengkak. Makanya malam itu juga saya sama suami bawa ke puskesmas di Km 12 Karang Joang,” tutur Helena, sepupu korban.

Dalam pemeriksaan awal, dokter menyimpulkan, kemaluan NA telah mengalami infeksi. Dokter kemudian memberikan obat penurun demam dan meminta Helena membawa NA kembali Selasa (25/4). Helena dan suaminya yang curiga kemudian mengorek keterangan. NA mengaku, seorang pemuda berambut keriting dengan tubuh kurus sudah beberapa kali mengerjainya.

“Saya kaget. Meski sejak awal saya sudah curiga. Tetapi, kami belum bisa pastikan. Makanya, pada Selasa itu, kami langsung rujuk ke RSKD (RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan). Dari rumah sakit, kami langsung diserahkan ke PPA. Dari PPA diminta visum di RS Bhayangkara. Di situ saya tahu kalau kondisinya sudah pembukaan enam. Artinya kata dokter terjadi persetubuhan,” papar Helena.

Setelah menjalani pemeriksaan dan dipastikan NA dicabuli, Helena langsung melapor ke ketua RT setempat. Dari ciri-ciri dan tempat tinggal, ketua RT dibantu Babinsa dan Babinkamtibmas mengamankan dua orang yang mirip dengan keterangan NA. Namun, NA sempat mengelak saat diminta petugas untuk menunjuk siapa pelakunya.

“Dia mengaku diancam lagi. Tangan pelaku diangkatnya sambil dikepal,” sebut Helena kemudian diperagakan NA.

Setelah bercerita, NA ditemani Helena dan sejumlah warga kemudian menunjukkan lokasi dirinya dijemput pelaku. NA kemudian dibawa ke rimbunnya pohon singkong. Jaraknya hanya 10 meter dari lokasi pelaku menunggu. Kurang 50 meter dari jalan kampung. Ada pos jaga di jalan masuk ke kebun singkong yang hanya setapak itu. Suasana di lokasi tertutup semak.

Gerimis dan jalan becek tidak menyurutkan niat NA untuk menunjukkan lokasi kedua. Kali ini jalannya lumayan jauh. Sekitar 200 meter dari lokasi pertama. Di lokasi ini cukup dekat dengan tempat tinggal pelaku. Dekat dengan rumah warga dan lapangan biasa anak-anak bermain bola. Di atas lapangan ada pondok beralaskan tanah padat, berpagar tumbuhan heliconia.

Pondok itu sejatinya tempat biasa warga menampilkan musik hiburan. Namun, karena lama tidak digunakan, kondisinya sudah tidak terawat. Keinginan NA untuk menunjukkan lokasi ketiga dan keempat tidak bisa dilakukan.

Dia merasa lelah dan ingin segera pulang. Media ini hanya ditunjukkan lokasi ketiga yang hanya berjarak kurang dari 50 meter tempat tinggal pelaku. Sementara itu, lokasi keempat di dekat pematangan lahan perumahan. Sekitar 100 meter dari lokasi kedua.

“Dia memang biasa lewat jalan ini. Soalnya kadang diminta mengantar daun singkong pesanan tetangga. Lumayan dijual buat uang jajan. Ibunya kerja sebagai penyapu di perumahan. Sementara ayahnya sedikit kurang bisa berkomunikasi dan menderita katarak,” tuturnya.

NA kemudian digendong Helena pulang ke rumahnya. Rupanya rumah dikunci. Sejak kejadian, ayah dan ibunya tinggal di tempat keluarga lain. Pasalnya, ada kekhawatiran akan adanya intimidasi dari keluarga pelaku. Maklum, kondisi keluarga NA tergolong kurang mampu. “Takut saja ada apa-apa. Jadi, sejak lapor polisi, tinggal di rumah keluarga,” ucap Helena.

Sementara itu, tempat tinggal pelaku tampak sepi. Rumah bertembok belum dicat itu dikatakan warga sebagai tempat tinggal pelaku sejak dua tahun terakhir. Warga sekitar hanya mengetahui pelaku tinggal bersama kakaknya di rumah beratap biru itu.

Terpisah, Paur Subbag Humas Polres Balikpapan Iptu D Suharto yang dikonfirmasi mengenai kejadian ini, membenarkan adanya kasus dugaan pencabulan yang melibatkan IHN dengan korban NA. Namun, dia masih belum bisa menyampaikan secara detail. Termasuk alat bukti pisau untuk mengancam korban dan hasil visum dari RS Bhayangkara.

“Pelaku sudah kami tahan dan saat ini masih menjalani pemeriksaan. Soal detailnya nanti akan kami sampaikan begitu pemeriksaan selesai. Saat ini masih ditangani oleh tim PPA,” ujar Suharto.

Kasus kekerasan pada anak dan perempuan di Balikpapan tergolong tinggi di Kaltim. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat, dari Januari hingga April 2017 sudah terjadi 10 kasus kekerasan anak dan perempuan di Kota Minyak.

Elly Risman, psikolog senior, menyebut kekerasan pada anak bisa diatasi bila orangtua dekat dengan anaknya. Yang jadi pertanyaan, seberapa lama orangtua atau seorang ayah mengobrol dengan anak? Hampir dipastikan, tidak banyak orangtua menghabiskan waktu lama kepada anaknya dengan alasan beragam.

Dia mengungkap, setiap orang memiliki “perpustakaan” dalam otaknya. Fungsinya menyimpan apapun aktivitas yang digemari si pemilik otak. Bila sejak anak-anak sudah direcoki atau mengetahui pornografi, maka itu akan tersimpan di perpustakaan. Elly Risman menyebutnya sebagai perpustakaan porno.

Biasanya, ujar dia, perpustakaan porno ini dimiliki oleh orang yang kecanduan pada pornografi. Jadi, mereka kerap berkhayal ketika melihat objek. Seorang pria yang sudah dipenuhi pornografi di otaknya, umumnya, suka mengkhayalkan perempuan cantik yang dilihat. “Bahkan dengan cara berkhayal, pria bisa melihat perempuan tanpa busana tanpa harus bugil,” katanya, mengilustrasikan.

Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta itu menjelaskan, pelaku bisnis pornografi begitu hebat bahkan sangat cerdas. Karena yang disasar anak pria, mereka membuat video porno dari animasi. Itu untuk mempercepat rangsangan ke otak anak sehingga mudah diterima. Saat beranjak remaja, biasanya dia penasaran dengan video porno yang nyata. Selanjutnya, si anak bakal mempraktikkan apa yang telah ditonton.

Perempuan yang sempat mendalami kelas parenting di Florida State University Tallahassee itu membeberkan, imbas dari adanya perpustakaan porno, muncul kasus bapak memperkosa anaknya (incest) atau keluarga dekat memperkosa anak kecil. Belum lagi kasus pedofilia yang bisa mengancam anak pria dan perempuan.

Meski demikian, bukan berarti hidup dari korban kekerasan seksual telah habis. Mereka juga masih memiliki masalah depan yang cerah. Maka perlu pendampingan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Balikpapan. Dari pembinaan itu, diharapkan bisa menghilangkan rasa trauma korban. (*/rdh/rom/k8)

loading...
Click to comment

The Latest

To Top