Sekarang Harga Sekilo Jengkol Hampir Setera Seekor Ayam, Wow! – FAJAR Trend
Update

Sekarang Harga Sekilo Jengkol Hampir Setera Seekor Ayam, Wow!

FAJAR TREND – Menjelang puasa tahun ini kenaikan harga signifikan tidak hanya pada komoditas bawang merah dan cabai merah. Ternyata harga jengkol juga melambung tinggi. Uniknya, buah berbau menyengat itu bisa menyaingi harga daging ayam per ekor.

Suyatna (40) pedagang sayuran di Pasar Induk Gedebage Kota Bandung mengatakan, selisih harga jengkol di setiap pasar, saat ini sekitar Rp 5.000. “Di sini harga jengkol per kilogramnya bisa mencapai Rp 60.000,” ujarnya, Kamis (27/4).

Dia menjelaskan bahwa kenaikan harga jengkol sudah dimulai awal April lalu. Disinyalir, pasokan menjadi sebab utama kenaikan buah yang dapat menyembuhkan penyakit diabetes melitus ini.

“Pasokan sangat minim sejak bulan kemarin, jadi para pedagang gak berani jual banyak-banyak apalagi menyediakan stok, takut enggak laku,” ujarnya kepada Radar Bandung (Jawa Pos Group).

Menurut pedagang jengkol di Pasar Kosambi, Yanto (55), biasanya harga normal jengkol paling mahal Rp 28 ribu. Namun ketika menginjak bulan Mei naik menjadi Rp 37 ribu sampai Rp 40 ribu. Hingga saat ini Yanto menjual jengkol dengan harga Rp 55 ribu per kilogram.

“Pasokan mengurang, biasanya saya mendapatkan pasokan dari Lampung. Tapi tiba-tiba minim jadinya harus ikut ke pasokan pasar yang lain, kadang dari Banten, Cianjur, dan Tasikmalaya,” Tutur Yanto.

Ironisnya, meroketnya harga jengkol tidak berpengaruh banyak bagi kesejahteraan petaninya. Menurut Entun (46) salah satu pemasok jengkol di Gedebage, para petani tidak merasakan untung dari lonjakan harga di pasar.

Dia mengatakan bahwa di daerahnya, Tasikmalaya, harga jengkol dari petani ke tengkulak itu hanya Rp 1.500 per kilogram.

“Kebetulan saya kan bersentuhan langsung dengan petani, jadi tahu sedikitnya urusan petani di sana, bahkan sejauh ini ya petani tidaknya pernah terpikir atau mungkin tau harga jengkol nisa naik menyaingi harga daging ayam,” ujar Entun.

Selain itu Entun juga menyampaikan cuaca ekstrim yang terjadi saat ini bisa jadi faktor gagal panen sehingga suplai jengkol berkurang. Meskipun sebetulnya, pohon jengkol secara alamiah tidak terpatok oleh musim atau cuaca.

“Jengkol kan ga kenal cuaca, mau kemarau mau hujan dia (jengkol) tetap berbuah, tapi kita lihat cuaca akhir-akhir ini pagi-pagi hujan siang bisa panas malem bisa hujan lagi. Kemungkinan cuaca extrim ini mempengaruhi kualitas si jengkol dan menyebabkan gagal panen,” kata dia.

Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) M. Rauf Syarkawi mengatakan, bukan hanya jengkol saja yang menjadi komoditas yang bisa dimainkan. Namun komoditas yang lain juga berpeluang bisa dimainkan. (jpg/fajar)

loading...
Click to comment

The Latest

To Top