Sejarah Kelam Hari Valentine, dan Mengapa Akhirnya Dirayakan Sebagai Hari Kasih Sayang – FAJAR Trend
Google Trend

Sejarah Kelam Hari Valentine, dan Mengapa Akhirnya Dirayakan Sebagai Hari Kasih Sayang

ilustrasi pengeksekusian valentine dituang dalam sebuah lukisan

FAJAR TREND – Besok, 14 Februari 2017, dirayakan masyarakat dunia sebagai Hari Valentine.

Dewasa ini, Valentine selalu dirayakan dengan ungkapan kasih kepada orang-orang yang kita cintai, khususnya kekasih, serta dipenuhi dengan rasa suka cita dan kegembiraan.

Bunga, cokelat dan makan malam romantis berhias nyala lilin biasanya menjadi alternatif banyak pasangan untuk merayakan hari penuh kasih sayang tersebut.

Namun, jika kita menilik ke belakang, ironisnya Hari Valentine memiliki sejarah yang kelam.

Dikutip dari LiveScience, ada tiga pria bernama Valentine yang tewas secara mengenaskan selama pemerintahan Kekaisaran Claudius II, tahun 200 masehi silam.

Valentine pertama adalah seorang imam di Kekaisaran Romawi, asal Roma, yang kerap membantu orang-orang teraniaya.

Claudius II melihat kebaikan Valentine itu sebagai bentuk penghinaan terhadapnya. Maka, ia mengutus anak buahnya untuk memenjarakan Valentine.

Jeruji besi tak membuat niat Valentine untuk membantu sesama padam, justru makin kuat. Terbukti, di sana ia mengembalikan penglihatan seorang gadis yang buta.

Lantaran kebaikan Valentine yang begitu tulus, gadis itu jatuh cinta dengannya.

Nahasnya, ternyata hukuman Valentine bukan hanya dijebloskan di penjara, namun ia juga menerima hukuman mati.

Valentie lalu dieksekusi dengan cara dipenggal pada 14 Februari.

Valentine kedua ialah seorang uskup dari Terni. Ia juga disiksa dan dieksekusi mati layaknya Valentine pertama oleh kekaisaran Claudius II pada 14 Februari, di tahun yang berbeda dengan Valentine pertama.

Sementara, Valentine ketiga berasal dari Genoa. Ia menentang aturan pernikahan yang dikeluarkan Claudius II. Ia lalu kemudian dijebloskan ke penjara dan juga dieksekusi.

Selama di penjara, legenda menyebut bahwa Valentine ketiga jatuh cinta dengan putri orang yang memenjarakannya. Sebelum dieksekusi secara sadis, ia membuat surat cinta untuk gadis tersebut, yang ditutup dengan kata, “Dari Valentine-mu.”

Antara 14 Februari dan Cinta

Terlepas dari legenda kelam di atas, keterkaitan antara Valentine dan cinta baru muncul jauh setelah ketiga Valentine dieksekusi.

Dalam puisi yang berjudul Parliament of Fowls (1382) karya Geoffrey Chaucer, seorang penyair dan penulis buku terkenal asal Inggris, Valentine sejatinya dirayakan sebagai hari pertunangan Raja Richard II.

Menurut puisi itu, Valentine dirayakan pada 3 Mei, bukan 14 Februari.

“Itu adalah hari di mana semua burung memilih pasangannya dalam setahun,” ujar Andy Kelly, ahli Bahasa Inggris dari University of California, Los Angeles, penulis buku ‘Chaucer and Cult of St Valentine‘.

“Tak lama setelahnya, dalam satu generasi, orang-orang mengambil ide untuk merayakan Valentine sebagai hari kasih sayang,” tambahnya.

Valentine yang menjadi referensi puisi Chauver mungkin adalah Valentine ketiga dari Genoa, yang dieksekusi pada 3 Mei. Tetapi, orang-orang Eropa pada saat itu tidak begitu familiar dengan sosok Valentine dari Genoa, mereka justru lebih akrab dengan legenda Valentine dari Roma dan Terin yang dieksekusi pada 14 Februari, lalu lantas dikaitkan dengan cinta. (riz/fajar)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Latest

To Top