Victor Moses, Kepergian Orang Tuanya Bak Titik Balik Kehidupan Pengungsi Nigeria Ini – FAJAR Trend
Bola

Victor Moses, Kepergian Orang Tuanya Bak Titik Balik Kehidupan Pengungsi Nigeria Ini

getty images

FAJAR TREND – Victor Moses menjelma menjadi bintang paling luar biasa di Liga Primer Inggris setelah Conte tiba di Chelsea.

Bertukar posisi menjadi bek sayap setelah sebelumnya bermain sebagai striker, Moses digadang-gadang menjadi pemain terbaik di posisinya.

Akan tetapi hal tersebut tak seberapa dibanding kisah kehidupannya dulu sebelum menjadi seperti saat ini. Orang tuanya dibunuh saat usianya menginjak 11 tahun, dan terpaksa mengungsi ke Inggris lantaran konflik yang tengah melanda tanah kelahirannya.

Kejayaan inspirasionalnya seakan terjadi dengan kebetulan. Setelah tiba di Inggris, ia kemudian dilatih oleh mantan kapten Chelsea, Colin Pates.

PRESS ASSOCIATION

PRESS ASSOCIATION

Pates, seorang guru olahraga yang membantu Moses mengembangkan bakat mentahnya di Whitgift School, Croydon, mengatakan sangat bangga melihat mantan anak didiknya bermain begitu luar biasa bersama Chelsea.

“Ia memiliki musim yang fantastis, bermain sangat baik, dan skema Conte sangatlah cocok dengannya,” ujar Pates.

“Saya tidak akan pernah mengatakan bahwa suatu hari nanti, sejuta tahun lagi, ia akan bermain sebagai bek sayap.”

“Namun ia telah berkembang, ia membuktikan dirinya kepada banyak orang yang salah menilainya.”

Moses dianugerahi Man of the Match saat Chelsea menang atas Middlesbrough dengan skor 1-0.

Anak asuh Antonio Conte kini meraih enam kemenangan beruntun, tanpa sekalipun kemasukan, sejak Moses melakukan debutnya di Liga Primer saat melawan Hull City, 1 Oktober lalu.

Ini menjadi hal yang sangat membanggakan bagi karir seorang Moses. Kini, karir dan hidupnya telah berubah.

THE SUN

THE SUN

Moses baru berusia 11 tahun ketika ayahnya, Austin Moses, seorang pendeta, dan ibunya, Josephine Moses, diserang dan dibunuh di tempat tinggal mereka, 2002 silam.

Saat kejadian, Moses tengah bermain sepakbola dengan teman-temannya menggunakan bola yang terbuat dari pita perekat.

Konflik agama antara warga mayoritas Nigeria yang memeluk Islam, dan warga minoritas pemeluk Kristen, memisahkan Moses dan orang tuanya untuk selama-lamanya.

Moses disembunyikan oleh pamannya selama seminggu, setelah penyerangan tersebut. Kemudian, ia diterbangkan ke Inggris untuk mencari perlindungan.

Ia tiba di London Selatan dan tidak mengenal siapapun. Ia lalu diadopsi oleh orang tua asuhnya dan bergabung dengan klub sepakbola pertamanya, Cosmos 90, setelah memberanikan diri bertanya apakah dirinya dapat bergabung dengan klub tersebut.

Cosmos sebelumnya dicap sebagai klub terburuk di liga setempat. Namun Moses, bermain sebagai gelandang serang, menceploskan delapan gol pada laga pertamanya.

Setelah itu, hingga kini, Moses telah menemukan kebahagiaannya pasca kesedihan yang ia alami.

Pates, mantan bek tengah Chelsea, menjadi pelatih di Whitgift selama 20 tahun, dan juga menjadi guru Moses.

Ia terpesona dengan bakat Moses, dan mengatakan bahwa kesedihan yang ia rasakan bahkan tak terlihat dari raut wajahnya saat ia tengah menimang bola.

WHITGIFT SCHOOL

WHITGIFT SCHOOL

“Sisi kelam Victor tetap ia simpan sebagai rahasia, dan ia tak pernah sekalipun membicarakan hal itu denganku. Bukan tugas saya untuk mengorek hal traumatis seperti itu,” lanjut Pates.

“Akan tetapi, ia adalah anak yang periang. Saya menyukai masa-masanya di sekolah. Ia terlihat bahagia, dan pastinya ia menikmati sepakbola Inggris.”

“Kami memberikan peran bebas di lapangan, dan ia memanfaatkannya dengan baik.”

“Ia juga sangat populer di kalangan guru akademik. Ia berkembang dengan baik di semua kelas yang ia hadiri.”

“Jika anda bertanya apa pelajaran favoritnya, saya bertaruh ia akan menjawab sepakbola!”

Pates tiba-tiba ingat dengan satu teguran yang ia tujukan pada Moses.

“Victor tidak pernah malas, akan tetapi ia terkadang harus didorong agar berhasil.”

“Saat turun minum pada suatu pertandingan, saya berkata padanya untuk bekerja lebih keras. Lalu tiba-tiba terdengar cekikikan rekan saya, John Humphrey.”

“Aku berkata kepadanya, ‘Mengapa anda tertawa? Saya tengah memberikan nasihat pada tim’.”

“Lalu John menjawab, ‘Maaf… Tetapi Victor telah mencetak enam gol dan anda menyuruhnya bekerja lebih keras lagi?’.”

“Satu hal, Victor adalah seseorang yang akan bekerja keras ketika menguasai bola.”

Lalu, Pates berbicara tentang selebrasi ikonik Moses.

GETTY IMAGES

REUTERS

Moses melakukan selebrasi salto ke belakang ikonik miliknya setelah mencetak gol kala melawan Leicester, bulan lalu.

Pates, yang telah melihat selebrasi Moses berkali-kali di Whitgift, kerap meringis jika melihatnya hingga kini.

“Ia kerap melakukan selebrasi jungkir balik dan kami di klub harus mengatakan padanya untuk tidak melakukan selebrasi seperti itu, karena beberapa kali ia tak mendarat dengan mulus,” kenang Pates.

“Tapi, ia menghiraukan kami dan tetap melakukannya. Ia memiliki jiwa penantang di dalam dirinya.”

“Kadang-kadang Victor melakukan hal-hal yang tidak anda inginkan, tetapi anda tidak bisa melarangnya karena ia selalu berhasil melakukannya.”

“Saya mempunyai foto dirinya tengah melakukan selebrasi miliknya saat ia berusia 14 tahun. Ia telah melakukan hal tersebut selama bertahun-tahun.”

“Kami menasihatinya untuk sedikit mengendalikan diri, karena kebugarannya sangatlah penting. Setiap ia melakukan selebrasi jungkir balik, saya selalu berpikir, ‘Jika ia mendarat pada pergelangan kakinya…’.”

“Itu saat ia masih di Whitgift. Di Stamford Bridge, tentu berbeda.”

“Ada kekhawatiran mendalam seputar kondisi pemain. Karena, sudah menjadi tugas kami untuk menjaga kebugaran pemain.”

“Di akhir pertandingan, anda dengan sangat mudah dapat menderita cedera.”

Kecermelangan Moses berlanjut di Whitgift. Ia mencetak tujuh gol dalam debut perdananya. Dalam pertandingan keempatnya bersama Whitgift, ia mencetak gol dari setengah lapangan.

Hal itu terjadi setelah Pates kembali mengharuskan dirinya untuk bekerja keras.

“Saya tidak tahu harus melakukan apa saat itu, karena sebelumnya saya belum pernah melihat ada anak-anak seusia Victor melakukan hal menakjubkan seperti itu.”

“Ia membuat dampak yang besar pada lingkungan sekolah. Ia seorang pemain sepakbola yang menjadi ikon klub.”

“Saya telah bekerja di Whitgift selama 20 tahun, dan belum pernah melihat bakat seperti yang ia miliki sebelumnya.”

“Apapun ketetapan permainannya, ia selalu bisa beradaptasi. Bahkan ketika usianya 16 tahun, ia sudah bermain dengan skuat U-18 kami.”

“Ia selalu memerlukan tantangan. Terkadang, anda tak dapat memberikan dirinya tantangan sebab ia menonjol dari anak-anak yang lain.”

“Ia menjadi pahlawan di sekolah. Kami memenangkan beberapa piala nasional dan daerah karenanya.”

“Kami memenangkan Piala FA Youth pada 2005 silam, menang dengan skor 5-0 di final, dan… ia mencetak lima gol.”

PRESS ASSOCIATION

PRESS ASSOCIATION

Moses lalu dikontrak Crsytal Palace dan melakukan debutnya bersama klub saat berusia 16 tahun. Setelahnya, ia selalu dipanggil membela tim nasional Inggris.

Ia memenangkan piala Afrika bersama Nigeria pada 2013.

GOOGLE IMAGES

GOOGLE IMAGES

Kemudian ia menjelma menjadi pemain muda menjanjikan Chelsea. Menghabiskan masa peminjaman di Liverpool, Stoke City, dan West Ham. Lalu setelahnya ada ketakutan kalau-kalau dirinya tak dapat bersinar.

Namun di akhir petualangannya mengarungi berbagai klub, ia kemudian kembali bersama Chelsea. Pates sama sekali tak terkejut bahwa mantan muridnya telah berkembang dari orang buangan, menjadi “ilham”. (m2/fajar)

loading...

The Latest

To Top